0370-621360 / SMS Centre 0811391300 inspektorat@ntbprov.go.id

BUPATI/WALIKOTA-KAPOLRES- KAJARI:
“Teken Perjanjian Kerja Sama APIP -APH dalam penanganan Pengaduan Korupsi ”

Bupati/Walikota se-NTB melakukan penandatanganan Perjanjian Kerja sama (PKS) tentang Koordinasi APIP – APH dalam penanganan pengaduan masyarakat yang terindikasi pidana korupsi, dengan Para Kapolres dan Kepala Kejaksaan Negeri masing-masing daerah, di Hotel Aruna Senggigi Lombok Barat, Rabu (7/11-2018).

Penandatanganan PKS yang disaksikan langsung Gubernur NTB, Dr. Zulkiflimansyah bersama Irjen Kemendagri, Sri Wahyuningsih, SH.MH, Koordinator Jaksa Jampidsus Kejagung RI, Sapta Subrata, SH, Wakil Direktur Tipikor Mabes Polri, KBP, Drs. Djoko Poerwanto, Kapolda NTB Brigjenpol Drs. Achmad Juri serta Kajati NTB, Muh. Dofir, SH.MH dan Inspektur Provinsi NTB, Ibnu Salim, SH.M.Si tersebut, mengatur tentang Koordinasi antara Aparat Pengawas Intern Pemerintah (APIP) inspektorat dengan Aparat Penegak Hukum (APH) dari Kepolisian maupun kejaksaan dalam penanganan Pengaduan Masyarakat yang terindikasi korupsi dalam penyelenggaraan pemerintahan Daerah.

Irjen Kemendagri, Sri Wahyuni menjelaskan, dasar dari PKS antara APIP dan APH tersebut merujuk pada ketentuan pasal 385 Undang Undang 23 Tahun 2014 tentang pemerintahan daerah, yang menegaskan bahwa APH dalam melakukan pemeriksaan terkait pengaduan masyarakat yang terindikasi korupsi dalam penyelenggaraan pemda terlebih dahulu berkoordinasi dengan pemerintah Daerah. Ketentuan tersebut, kata Sri Wahyuni dipertegas lagi dengan terbitnya instruksi Presiden Nomor 1 tahun 2016, dan arahan Presiden RI kepada jajaran pemetintahan pada tanggal 19 Juli 2016 di Istana Bogor, yang menegaskan 3 hal penting sebagai rujukan bagi kerja sama APIP dan APH dalam mewujudkan pemerintahan yang baik serta efektive dan efisien.

Pertama, terkait kebijakan atau diskresi Kepala Daerah tidak bisa dipidanakan. Kedua, tindakan administrasi pemerintahan agar tidak dipidanakan, dan Ketiga, kerugian yang dinyatakan oleh BPK diberikan peluang mengembalikan selama 60 (enam puluh) hari.

Menurutnya, koordinasi APIP dan APH dilakukan pada tahapan penyelidikan atau sebelum dimulainya penyidikan, dimana belum ada penetapan tersangka oleh APH. Namun sebaliknya, jika kasus pengaduan masyarakat telah ditangani oleh APH dan ada tersangkanya maka APH melanjutkan prosesnya ke projustisia, jelas irjen Kemendagri ini.

Ia memastikan bahwa perjanjian kerja sama itu, bukan untuk melindungi korupsi. Karenanya ia menekankan pentingnya integritas dan kapabilitas APIP dan APH dalam menjalankan profesinya. Bahkan APIP diminta agar istiqomah dan tegak lurus terhadap standar dan kode etik profesi. “Jangan sesekali mengubah rekomendasi seharusnya pidana menjadi administrasi”, pesannya. Jangan pula menutupi terjadinya indikasi korupsi, apalagi mau dijadikan bemper atau pelindung dari penyimpangan atas dasar keluarga atau kolega, pesan irjen kepada ratusan APIP dan APH yang mengahadiri penandatanganan PKS tersebut.

Sedangkan kepada para Bupati/Walikota se-NTB, irjen Sri Wahyuni mengharapkan dukungan penuh terhadap penguatan APIP. Terlebih kedepan tugas dan tanggung jawab inspektorat daerah akan semakin berat, maka para bupati/walikota diminta untuk memperhatikan pemenuhan kebutuhan anggaran, peningkatan kapasitas APIP secara berkelanjutan serta pemenuhan kebutuhan jumlah personil inspektorat di masing-masing daerah.

Senada dengan Irjen Kemendagri, Gubernur NTB, Dr.H.Zulkieflimansyah menyambut baik atas penandatanganan perjanjian kerja sama antara pemerintah daerah dengan kedua lembaga penegak hukum tersebut, yakni kepolisian dan kejaksaan. Kerja sama yang dibangun antara APIP Inspektorat dan APH diharapkannya dapat meredam adanya oknum oknum pelapor yang kurang bertanggung jawab, yang seringkali menggunakan media sosial melaporkan penyelenggara negara padahal itu belum tentu benar, ujar Gubernur.

Kondisi itu, menurutnya telah memberikan dampak kurang baik dimana tidak sedikit dari penyelenggara negara yang merasa diteror dan merasa ketakutan atau menjadi ragu ragu dalam mengeksekusi program-programnya. Pengguna sosmed seakan – akan mempunyai kekuatan politik baru yang diharapkan APIP dan APH terus bersinergi untuk memastikan penyelenggaraan pemerintahan terus bergerak pada rel yang benar.

Sebelum Inspektur Provinsi NTB, Ibnu Salim, SH.M Si melaporkan bahwa penandatanganan PKS tersebut merupakan tindaklanjut dari penandatangan PKS ditingkat Pusat dan tingkat Provinsi NTB yang telah dilaksanakan sebelumnya.

Sumber : Irbansus

UA-74660865-1